Senin, 15 September 2008

Lokasi liburan alternatif

Gunung Bunder

Gunung bunder merupakan salah satu kawasan dikabupaten Bogor. Wilayah ini merupakan alternatif wisata bagi para wisatawan Jakarta ataupun wilayah sekitar selain kawasan pucak. Wilayah ini berada diketinggian ± 600 mdpal (meter diatas permukaan air laut). Pada umumnya para pengendara motor dan mobil berdatangan diwaktu libur,sekedar untuk menikmati keindahan kota wilayah sekitar.

Pemandangan tidak kalah indahnya dengan pemandangan diwilayah puncak.dan bahkan lebih nyaman menikmati keindahan dibandingkan puncak cipanas yang harus selalu menempuh kemacetan. Dengan hanya membayar retribusi Rp 3000.-/orang kita dapat menyaksikan keindahan seperti gambar ini,dan banyak lagi tempat wisata lainnya dari Kawah ratu yang saat saya datang sedang tertutup untuk wisatan karena saat itu sedang mengadung gas beracun, hutan lindung yang menjadi satu dengan pungungan Gunung Salak, dan berbagi Air Terjun yang banyak dijumpai menjadikan daya tarik tersendiri bagi lokasi Gunung Bunder ini.

Wilayah ini

Wilayah ini masih sering menjumpai rumah-rumah diatas bukit,yang menurut warga sekitar kadang digunakan untuk mengisi badan, entah apa maksudnya dari mengisi badan tersebut tetapi yang dapat saya tangkap rumah-rumah tersebut sering digunakan untuk mencari ilmu kebatinan. Sehingga pernah timbul adanya seorang yang mengaku sebagai rasul baru, yang mungkin terjadi karena memang adanya tempat seperti ini.


Dibawah ini berbagai Air terjun yang dapat ditampilkan. Dan sebenarnya masih banyak lagi Air Terjun yang ada disini, bahkan penduduk setempat pernah mengatakan ada air terjun yang belum tereksplorasi dikarenakan medan menuju lokasi yang cukup sulit sehingga belum diberdayakan secara maksimal.

Untuk penginapan kita bisa menggunakan fasilitas warung-warung yang berada disekitar yang memang sengaja digunakan bagi para pendatang yang hanya sekedar menghabiskan malam, atau dapat menggunakan fasilitas penginapan yang tersedia mulai dari Rp 100.000.-/malam hingga Rp 1.000.0000.-/malam untuk kelas wisma. Untuk harga makan disanapun cukup terjangkau. Dan lokasi disini sering digunakan para pecinta alam untuk digunakan sebagi tempat diklat, dikarenakan kontur serta lokasinya yang masih memungkinkan untuk melaksanakan diklat.



Ini merupakan pemandangan yang dapat dijumpai jika kita memasuki areal pemandian air panas yang ada. Dengan nama Pemandian Air Panas SGA dan dengan membayar biaya masuk sebesar Rp 2.500.-/orang. Berdasarkan penduduk setempat air ini berasal dari puncak gunung bunder, yang terdapat air terjun bernama Curug Seribu. Air ini masih terdapat unsur belerang dapat dilihat warna coklat ke kuningan yang berasal dari endapan dian air panas yang ada disana, dengan membayar Rp 1.000.-/orang untuk kolam redam umum, dan Rp 10.000.-/kamar untuk kolam dengan privasi dengan maksimal 2 orang tiap kamarnya. Bahkan ada yang tidak perlu membayar alias gratis yang hanya sekedar untuk membasuh dan merasakan kehangatan air tersebut. Menurut bapak Haris sebagai penjaga kolam air panas ini sumber air ini berasal dari bukit yang ada disampingnya.


Menurut cerita pak Haris, kolam tersebut dapat menyembuhkan berbagi penyakit, baik itu penyakit kulit hingga stroke. Penah seorang yang mengalami stroke yang cukup parah datang kesana, dengan ajuran terapi beliau selama 6 hari penyakit tersebut dapat sembuh. Dan seorang warga negara Jepang pun pernah merasakan khasiat dari air panas tersebut. Beliau dapat membantu jika memang ada yang membutuhkan jasanya.

“Ini mungkin bisa menjadikan alternatif untuk menghabiskan libur pembaca sekalian”


Penulis mohon maaf jika ada berita yang salah.

Mohon untuk tidak mengkomersilkan artikel ini,tanpa ijin penulis.Poetstory

Post by: poets01

Kamis, 11 September 2008

sepenggal kisah wonogiri

Senja pagi waduk gajah mungkurSeja pagi menimbulkan keindahan secara alami yang memang dibutuhkan kealamian untuk dapat bertahan hidup disana. Wonogiri merupakan suatu kabupaten di Selatan kota Solo.yang mana rata kehidupan disana mengandalkan petanian serta perkebunan. Mungkin kurang dari 30% penduduk yang berpenghasilan bukan dari bertani. Gambar ini sebuah sisi dari Waduk gajah mungkur,yang baru-baru ini telah menenggelamkan banyak kota di Jawa Tengah hingga Jawa Timur (2007).


Gunung ini yang disebut dengan Gunung Gajah Mungkur,dibalik sana terbentang Waduk. Dan mengapa disebut Gajah Mungkur, sebab dapat dilihat dari kejauhan seperti seekor Gajah sedang terlungkup (bhs jawa = mungkur).

Kota ini mungkin masih sangat jauh dikatakan maju.sebab banyak sekali kendala-kendala mulai dari kurangnya sarana prasarana penunjang baik dalam transportsi maupun kesehatan. Pada tahun 1980 masih dapat terlihat banyaknya penduduk yang terkena penyakit gondok (bejolan pada leher)yang disebabkan oleh kurangnya garam beryodium. Tapi pada saat ini sudah mulai hilang,dengan maju serta mudahnya mencari garam beryodium pada masa ini.

Satu hal lagi, jika pada musim kering banyak sekali warga desa yang kesulitan akan air baik itu untuk konsumsi maupun untuk keperluannya lainnya. Disebabkan semakin berkurangnya sumber-sumber air ataupun mata air yang menjadi penopang hidup mereka. Penah saya membaca artikel sebuah surat kabar harian lokal sana, bahwa sejak ratusan tahun daerah wonogiri memang merupakan wilayah yang sulit akan air dimusim kemarau. hmm sangat keras sekali kehidupan disana.

Rumah Generasi ke 3

Ini merupakan rumah terakhir digenerasi ketiga.yang mana saat ini sudah tidak dihuni lagi,dikarenakan menghilangnya generasi selanjutnya. Mereka mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Dan mungkin masih banyak rumah-rumah tidak berpenghuni disana.

Apakah tidak dapat memberikan kehidupan yang menjanjikan disana..??

Banyak dari masyarakat disana meratau entah keibukota Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya, bahkan tidak sedikit pula yang merantau hingga kenegara-nergara dibelahan dunia.

Ada hal menarik di kota ini, akan terlihat ramai jika diwaktu raya Islam (Idul’fitri / lebaran). Mereka perantauan akan kembali untuk menemui orang tua atau famili mereka. Dan ini menjadikan rejeki tambahan bagi pekerja transportasi. Tapi setelah selesai akan kembali kesedia kala sepi.

Apabila sanak saudara dan famili mereka pergi juga untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi, seperti apakah kondisi Wonogiri selanjutnya..??