http://www.cheriatna.asia/2013/11/budidaya-ternak-lele-dilahan-sempit-Teknologi-Biofloc-Probiotik.html . Selasa, 15 April 2014
Cheria Farm Pusat Pelatihan Budidaya Ikan Lele di Jakarta
http://www.cheriatna.asia/2013/11/budidaya-ternak-lele-dilahan-sempit-Teknologi-Biofloc-Probiotik.html . Senin, 27 September 2010
Enterpreneur sukses
VIVAnews
By Antique, Iwan Kurniawan - Selasa, 28 September
undefined Richard Branson, pemilik Virgin Group
VIVAnews - Richard Branson dikenal sebagai miliader yang unik. Meski memiliki ratusan usaha, ia tetap 'membumi'. Di depan sejumlah menteri dan ratusan eksekutif di Indonesia, bos Virgin Company berambut gondrong ini berbagi rahasia suksesnya.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu terlihat serius mendengarkan kuliah Branson.
Memulai kuliahnya, Branson mengaku tak memiliki gelar formal di bidang pendidikan. Di usia yang relatif muda, 15 tahun, ia memilih berhenti sekolah untuk memulai bisnisnya. Saat itu ia mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membuat majalah dan mendapatkan keuntungan dari iklan.
Pelan-pelan bisnisnya merangkak hingga kini ia memiliki 200 perusahaan di berbagai sektor. Apa rahasianya? "Memiliki keinginan besar," kata Branson dalam kuliah umum 'Inspiring Lecture Series' yang diadakan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) di Hotel Kempinski Jakarta, Senin 27 September 2010 malam.
"Saya sangat senang belajar hal-hal baru dan sangat menyenangkan jika kita mempunyai mimpi dan mewujudkan mimpi tersebut," ujarnya.
Branson mengaku beruntung meninggalkan bangku sekolah di usia muda. Setidaknya ia mendapat dua keuntungan ketika memutuskan meninggalkan bangku sekolah.
Keuntungan pertama, kata dia, semangat nothing to lose. Anak muda dapat terus mencoba, jika usaha yang dirintis gagal karena masih memiliki banyak waktu. "Yang kedua, tidak perlu memikirkan pinjaman rumah dan pacar," ujarnya sambil tertawa.
Diakuinya meninggalkan bangku sekolah membutuhkan keberanian yang kuat. Karenanya ia tidak menyarankan anak muda untuk meninggalkan sekolah. "Tapi kalian harus berani, karena di umur 24 tahun, Anda akan menghadapi kehidupan sesungguhnya," katanya.
Branson juga mengungkapkan, kiatnya sebelum memulai bisnis baru. "Kalau saya mau memulai bisnis, saya lebih mengutamakan indra keenam saya ketimbang kalkulasi-kalkukasi bisnis. Kerjakan saja," katanya. Dia juga enggan menggabungkan karir politik dan bisnis, karena diyakininya akan merusak profesionalisme.
Dalam berbisnis, Branson juga sangat menjunjung etika. Menurut dia, etika bukan saja poin penting dalam berbisnis tapi juga landasan sebuah bisnia.
Branson kini memiliki 200 perusahaan di lebih 30 negara dengan bendera Virgin Company. Ia juga memiliki usaha musik internasional Virgin Megastore, maskapai penerbangan Virgin Atlantik, dan ratusan perusahaan lain. Beberapa bisnisnya tidak umum, seperti Virgin Galactic yang bergerak di bidang wisata ruang angkasa. (umi)
Rabu, 22 September 2010
usaha lele
Kecebong muncul di kolam, membuat Nasrudin gembira karena dia mengira kecebong itu anak ikan lele. Kegembiraannya itu sirna dan dia tersipu malu lelekecilketika diberi tahu bahwa yang dikira anak ikan lele itu adalah kecebong. Kodok betina yang masuk ke kolam tanpa diketahui, bertelur dan menetas bersama dua indukan ikan lele betina dan seekor jantan.
Itu pengalaman pertama Nasrudin delapan tahun lalu saat belajar beternak ikan lele. "Kecebong disangka anak lele. Ngerakeun pisan (sangat memalukan)," kata Nasrudin, menuturkan awal usahanya menjadi peternak ikan lele, di Saung Pertemuan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Jaya Sentosa, awal November lalu. Saung itu berdiri di tepi puluhan kolam ikan lele yang terbuat dari terpal dan tembok di lahan seluas 12.000 meter persegi di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kini, dia tak lagi dipermalukan atas ketidaktahuannya. Nasrudin sudah tersohor berkat lele sangkuriang yang mulai dikembangbiakkan pada 2001. Dia mengawali usaha beternak lele dengan benih sekitar 100.000 lele sangkuriang yang diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Nama sangkuriang yang diberikan itu memang diambil dari legenda Tanah Pasundan untuk menandakan lokasi asal pembiakan lele jenis tersebut.
Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi keenam (F6). Induk betina (F2) berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia pada 1985.
Petugas penyuluh pertanian dan perikanan setempat memberikan bimbingan beternak ikan secara benar. Berkat ketekunannya, Nasrudin berhasil mengembangkan ikan lele sangkuriang.
Dia kini sudah menjadi "pendekar lele", bukan saja mahir dalam membesarkan lele dengan jurus-jurus yang jitu, tetapi juga mampu mengobati lele yang diserang penyakit, seperti radang kulit, dengan obat herbal ramuannya sendiri. Obat ini diberikan cuma-cuma kepada yang memerlukan.
Sejak 2005, dia menjadi pelatih bagi kelompok dari sejumlah daerah, termasuk sejumlah karyawan perusahaan swasta dan pemerintah menjelang pensiun yang ingin beternak lele. Namanya pun sohor menjadi "Nasrudin Lele" dari Desa Gadog. Bahkan, kalangan pembudidaya lele dan warga setempat menjuluki Nasrudin dengan sebutan Bapak Letkol—akronim dari Lele Kolam yang dipelesetkan menjadi Letkol—sehingga dia kemudian disebut "Letkol" Nasrudin.
Petani lele sangkuriang dari Desa Gadog ini kini lebih jauh berangan-angan membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan memelihara lele. "Budidaya lele tidak terlalu sulit, teknologinya juga mudah dan tiga bulan sudah bisa dipanen. Masyarakat kecil bisa membudidayakan lele di halaman rumahnya. Cukup dengan lahan minim, hanya dengan luas 1 meter x 1 meter, serta modal Rp 75.000 untuk bibit dan pakan, sudah bisa beternak lele skala kecil," kata Nasrudin seperti dikutip Kompas.
Dia tak segan-segan membagi pengetahuan memelihara lele secara benar kepada mereka yang ingin membudidayakan lele. Dia juga siap membantu mereka yang datang menimba ilmu di P4S Gadog tanpa dipungut biaya.
Sejumlah petugas penyuluh pertanian dan perikanan serta pakar perikanan pun mendukung kegiatan Nasrudin membudidayakan lele sangkuriang dan melakukan pelatihan. Dukungan ini membuat Nasrudin bersemangat dan bertambah yakin akan angan-angannya untuk menjadikan Desa Gadog sebagai sentra budidaya lele sangkuriang.
Bahkan, 7 September lalu, Nasrudin diangkat menjadi Ketua Gabungan Kelompok (Gapok) Budidaya Ikan Lele Sangkuriang "Cahaya Kita" untuk wilayah tengah Provinsi Jabar dengan pusat aktivitas di wilayah Kabupaten/Kota Bogor.
Nasrudin yang puluhan tahun sebagai petani padi dan kemudian beralih menjadi pembudidaya lele ini, bersama kelompok pembenih lele sangkuriang yang tergabung dalam Gapok Cahaya Kita, ingin memproduksi sekitar 1,5 juta benih lele sangkuriang setiap bulan untuk memasok anggota kelompok budidaya lele sangkuriang yang saat ini berjumlah sekitar 50 orang.
Dengan produksi benih sebanyak itu, kelompok budidaya/pembesar ikan lele sangkuriang diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan lele di wilayah Jakarta. Adapun kebutuhan lele di wilayah Jabotabek diperkirakan sekitar 75 ton sehari. Pemasoknya bukan saja berasal dari petani lele Jabar, tetapi juga dari Jawa Tengah.
"Saat ini boro-boro memasok ke Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah Kota/Kabupaten Bogor saja kekurangan. Kami peternak lele sangkuriang di daerah Gadog dan sekitarnya, meliputi Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, baru mampu memproduksi sekitar 3 ton per hari dari kebutuhan sekitar 10 ton," kata "Letkol" Nasarudin. Dari kolamnya sendiri, Nasrudin baru mampu memasok sekitar 2 ton per minggu kepada pelanggannya. Lele sangkuriang dijual Rp 10.500-Rp 11.000 per kilogram.
mungkin bisa jadi altefnatif yang ingin mencoba sebagai peternak dengan hasil setingkat executvie manager.
Kamis, 12 Februari 2009
Ragam artikel budidaya gurame
Mei 14, 2006 in Lain-lain
Banyak orang menyangka usaha gurami membutuhkan waktu dan modal banyak. Asal tahu siasatnya, Anda tak perlu menunggu setahun untuk meraup untung. Apalagi pasar telah menanti pasokan anda.
Gurami termasuk jenis ikan yang dikonsumsi tanpa batas. Tak pandang muda atau dewasa, pejabat atau rakyat – semuanya doyan gurami. Rasanya lezat dan gurih apalagi dibakar membuat ikan konsumsi harian yang mengasyikkan. Tak sedikit restoran mewah menyuguhkan masakan gurami sebagai menu utama. Bahkan di warung, lesehan atau tempat pemancingan tak luput dari kehadiran gurami.Tak heran, permintaanpun membludak dan produsen gurami tak sanggup memenuhi permintaan.
Sebut saja Asep Nurwahid, pelaku budidaya dari Depok, Jabar mengaku acapkali kesulitan memenuhi permintaan gurami. Walaupun dalam sepekan Asep sudah memasok sebanyak 550 kg dengan harga Rp. 17.500/kg berukuran 800 gram/ekor, toh tetap tak mampu menuruti kehendak konsumen.
Hal yang sama dibenarkan oleh Agus Sutariyono, pemasok gurami di Jakarta. “Paling tidak permintaan gurami untuk pasar Jakarta mencapai 1 ton perhari,” katanya.
Sesungguhnya banyak petani yang ingin beralih gurami. Tapi citra yang berkembang, gurami lambat pertumbuhannya menyebabkan calon petani mundur sebelum melangkah. Karena jika dipikir lambat pertumbuhannya ini menunjukkan gurami membutuhkan pakan banyak dan akan berdampak pada biaya operasional yang bisa menjadi besar.
Nah, benarkah demikian?
Bagaimana solusinya?
Dibandingkan dengan ikan Nila misalnya memang pertumbuhan gurami tamak lebih lama. Dengan lele pun, gurami masih jauh ketinggalan. Sebab lele bisa dipanen 6 bulan sedangkan gurami setidak-tidaknya satu tahun.Tapi sesungguhnya untuk mengukur keuntungan bukanlah semata-mata pada bertumpu lamanya masa pemeliharaan. Lalu?
Simak saja pasarnya.
Pasar gurami selama ini tidak pernah menolak berapapun ukuran gurami yang dipanen.
Mulai telur saja sudah bisa dijual Rp. 30. Lantas, gurami umur 15-20 hari laku Rp. 90/ekor. Dua minggu berikutnya sudah bisa dijual 250-300 per ekor.
Sekarang pertanyaannya: Bagaimana kalau usaha pembesaran gurami dilakukan dalam setahun?.
Dari pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa biaya produksi 20 unit kolam kolam selama setahun mencapai Rp. 76,8 juta lebih. Masa panennya bisa dua kali yaitu umur 6 bulan dan 12 bulan. Dengan harga perkilo Rp. 15 ribu di tingkat petani, maka total penjualan sebesar Rp. 118,6 juta lebih. Dengan demikian untungnya Rp. 41,7 juta lebih. Luar biasa!
DUA JENIS GURAMI
Ikan gurami yang sepintas gerakannya pelan, tapi bisa menjadi beringas jika ada yang mengusiknya. Gurami dapat bergerak dengan cepat atau meloncat apabila digoda atau akan ditangkap. Bahkan sekalipun sudah tertangkap, ikan ini selalu berontak untuk melepaskan diri.
Di Indonesia terdapat dua strain gurami yang berkembang yaitu gurami soang dan gurami jepang. Ikan gurami soang dapat mencapai panjang 65 cm dan berat 8 kg, sedangkan gurami jepang panjang 45 cm dan berat 3,5 kg. Kemudian sisik dan posturnya lebih kecil dengan warna hitam atau albino.
Tapi sebenarnya, baik gurami soang maupun gurami jepang, memiliki rasa yang sama lezatnya.
DAERAH PENGHASIL GURAMI DI INDONESIA
Daerah penghasil ikan gurami terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat dengan kontribusi 34,04%, lalu Jateng 18,67%, Jatim 14,98%, Sumbar 15,44%, dan NTB 2,7%.
Ikan gurami sangat potensial dikembangkan diseluruh propinsi. Baik dikembangkan di sawah, kolam, empang, waduk, danau maupun sungai.
Khususnya, potensi waduk dan danau untuk pengembangan gurami sebagai berikut, di Jabar meliputi Cirata, Jatiluhur dan Darma, Jateng diantaranya Kedungombo,Gajahmungkur, Mrican, Sempur dan Wadaslintang, Jatim di Selorejo, Bening dan Karangkates, sedangkan di Sumut bisa di Toba, bila anda di Lampung bisa di Way Jepara dan Way Rarem, Kalsel bisa di Riam Kanan, NTB di Batujai, Bali di Palasari, Sulsel di Tempe dan Sulteng di Poso.
PAKAN TAMBAHAN
Dalam memberikan pakan kepada gurami, ada beberapa hal yang perlu diingat.
Setelah benih ditebar, pengelolaan berikut memberi makan tambahan dalam jumlah dan kualitas yang cukup.
Tatkala benih berumur 4-5 hari, tak perlu diberi pakan tambahan sebab masih tersedia pakan alami yang tumbuh dari hasil pemupukan.Sejak umur 6 hari, mulailah diberi pakan tambahan. Agar pakan tambahan tidak terbuang, sebaiknya berbentuk pellet. Ukuran pellet disesuaikan dengan lebar mulut bibit yang ditebar. Jumlah yang diberikan setiap harinya berkisar 5-7% dari total berat badan. Pada awal pertumbuhan diberi pakan sebanyak 7% perhari dan diberikan 2 kali sehari yakni ¾ bagian pada pagi dan ¼ bagian sisanya pad sore hari. Menjelang umur 1 tahun, jumlah pakan yang diberikan dikurangi sampai 5%. Gurami termasuk herbivora, panjang ususnya hampir 7 kali panjang badannya. Karena itu disamping pakan buatan juga diberi pakan alami berupa daun-daunan sebanyak 10%. Misalnya saja daun ubi kayu, daun mentimun, daun pepaya, daun kangkung, daun kimpul, daun talas, dan daun labu. Khusus untuk daun talas dan kimpul harus diberikan dalam bentuk kering, karena getahnya dapat menimbulkan penyakit cacar.
Memang prospek bisnis gurami tetap cerah. Keuntungannya bisa bertambah, andaikata persoalan pakan segera diselesaikan. Ini berarti, terbuka peluang bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian lainnya melakukan riset pakan ikan yang lebih efisien.
Penulis: H. Budi Santoso (Koran Tempo Online)
Oleh : Maulana Yudiman
Keputusan H. Sujadi untuk membudidayakan ikan gurame sekitar dua puluh tahun lalu ternyata tidak keliru. Produk ikan gurame yang dibudidayakannya kini diterima oleh salah satu jaringan supermarket internasional sebagai produk yang terjamin kualitasnya. Selain akan dipasarkan di jaringan toko supermarket ini, ikan Gurame H. Sujadi berpeluang menembus pasar ekspor.
Keberhasilan ini merupakan satu dari sekian banyak pengakuan yang diterima oleh H. Sujadi atas kerja keras dan keuletannya membudidayakan ikan gurame. Ikan gurame (osphronemus Gouramy lac), merupakan ikan asli indonesia. Ikan ini dikenal luas oleh masyarakat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, khususnya di wilayah Banyumas (Purwokerto dan Cilacap), serta Banjarnegara. Ikan ini umumnya dibudidayakan oleh masyarakat secara tradisional. Oleh Sujadi, ikan gurame dibudidaya dengan cara-cara modern, meski tanpa meninggalkan kearifan tradisional. Salah satu diantaranya, meski menggunakan pakan buatan pabrik untuk mempercepat pertumbuhan, Sujadi juga senantiasa mengimbanginya dengan memberi pakan daun-daunan, khususnya daun iles-iles dan sente.
H. Sujadi with his Gurame
Satu hal lain, Sujadi pantang menggunakan obat-obatan dan bahan kimia lain, untuk pengobatan ikan gurame yang terkena penyakit. Gurame dikenal rentan terkena hama dan penyakit, terlebih saat terjadi perubahan cuaca. Sebagai gantinya ayah tiga anak ini hanya rajin menaburi kolam guramenya dengan garam. Hasilnya ternyata terbukti manjur, jarang sekali ia mendapati ikan guramenya terserang penyakit. Cara ini didapatnya dari pemikirannya yang sederhana, “Ikan laut tak pernah ada yang terkena penyakit, itu karena mereka hidup di alut yang airnya asin,” katanya sembari tersenyum. Filosofi sederhana ini diterapkan oleh Sujadi yang ternyata terbukti mujarab menghindarkan ikan gurame dari hama dan penyakit.
Namun, tentu saja garam buka satu-satunya resep Sujadi dalam sukses berbudidaya gurame. Salah satunya adalah tahapan budidaya yang dengan dilakuknnya dengan disiplin. Diantraranya sejak pemilihan benih, penyiapan kolam, perlakuan pada kolam, diantaranya dengan menaburkan kapur tohor, dolomit, dan suplemen penyubur tanah, pemberian pakan yang terpola, hingga yang terakhir itu : rajin menaburi kolam guramenya dengan garam.
Pendidik sekaligus Petani
Sebelum terjun sebagai petani pembudidaya gurame, Sujadi adalah guru di SD, dan pembina pramuka. Aktifitasnya sebagai pembina pramuka menjadikannya sebagai salah seorang pembina pramuka terbaik se kabupaten Cilacap. Namun, Sujadi yang diwarisi sepetak tanah oleh orangtuanya di Desa Glempang, Maos Cilacap. Merasa menjadi guru - meski merupakan pekerjaan mulia - namun dirasakan tidak akan cukup menjamin kesejahteraan hidup keluarganya. Sujadi memilih untuk beralih profesi menjadi petani pembudidaya gurame dan mengajukan pensiun muda dari profesi guru yang sudah lama ditekuninya. Dari dua petak kolam berukuran 200 meter persegi, di tahun 1987, kini berkembang menjadi 16 kolam, dengan luas keseluruhan mencapai 1,2 ha. Dari setiap kolam, setidaknya mampu menghasilkan 2 - 3 ton ikan gurame per periode panen (4 bulan). Kolam ini pun rencananya akan diperluas lagi, untuk memenuhi permintaan terhadap ikan gurame yang semakin meningkat.
Selain mampu mengisi kebutuhan ikan gurame untuk beberapa restoran terkemuka di Jawa Barat, ikan gurame Sujadi juga dibeli oleh para petani gurame lain di kawasan Jawa Tengah, dan sebagian kota di Jawa Barat seperti Ciamis, Garut dan Tasikmalaya. Selain menjadi petani, Sujadi juga menjadi distributor pakan yang diproduksi oleh salah satu perusahaan pakan terbesar di Indonesia. Pakan produksi PT Central Proteinaprima ini, selain digunakannya sendiri juga disalurkan untuk para petani pembudidaya gurame lainnya di sekitar Cilacap.
Karena keberhasilannya ini, Sujadi menjadi rujukan dan tempat bertanya para petani gurame lainnya. Tak hanya di wilayah Cilacap, juga di wilayah lain di luar Cilacap. Keberhasilannya bertani gurame membuatnya terpilih sebagai salah satu petani teladan tingkat nasional tahun 1996, yang mengantarnya ke istana untuk mendapat penghargaan dari presiden saat itu, Suharto.
Jaminan Produk Berkualitas
Kini, produk guramenya sudah menembus supermarket asal Perancis, CarrefourPerkenalan Haji Sujadi dengan jaringan supermarket asal Perancis ini berawal ketika salah satu pemasoknya, Amarta Bisma mengenalkan produk guramenya kepada salah satu toko milik supermarket asal Perancis itu di Jakarta. Tak disangka, permintaan terhadap gurame yang dikirim dalam bentuk olahan beku itu cukup disambut pasar. Permintan pun terus mengalir.
Pada saat yang bersamaan, Carrefour pun tengah membidik produk asli Indonesia untuk diikutsertakan dalam program Carfour Quality Line (CQL) atau Jaminan Produk Berkualitas sebagai komitmen perusahaan asal Perancis ini menyajikan produk terbaik untuk konsumennya. Gurame yang dibudidayakan H. Sujadi kemudian terpilih. Program ini sudah dijalankan Carefour di beberapa negara, dan di Indonesia, Gurame milik H. Sujadi adalah produk kedua (setelah produk udang asal Lampung) yang mendapat kehormatan untuk mengikuti program serupa.
Intinya, H. Sujadi dituntut untuk menjalankan cara bertani yang baik (GAP = Good Agriculture Process), selain juga melengkapi persyaratan tata cara bertani yang ramah lingkungan, serta keharusan untuk menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang bahkan, tanpa mengetahui jargon CSR yang saat ini banyak digembar-gemborkan oleh berbagai kalangan, ia sudah sejak lama menerapkannya.
Buat H. Sujadi, program jaminan kualitas ini tetap saja tidak mengubah apapun dalam dirinya. Kesederhanaan adalah kesehariannya. Bersama sekitar 14 orang karyawannya, kegiataan sehari-harinya adalah mengurus kolam, serta menjadi tempat bertanya para petani binaannya. Produk guramenya kini, merupakan pionir untuk produk dengan jaminan kualitas terbaik, dan dipasarkan oleh jaringan supermarket ternama, yang memungkinkan menembus pasar internasional lewat jaringan pasar Carrefour yang mendunia.
- gurami adalah hewan herbivora kasih aja pakan alami dengan daun talas, pepaya, daun keladi, ketala rambat, kangkung, dan buah terong.hasilnya lebih bagus dari pakan pabrik, ikan lebih tahan penyakit mata belo, kelemahan air lebih mudah tercemar kalau sisa pakan tidak dibersihkan.
porsinya 10 % dari berat ikan.
Gurami? Tak Melulu Sente
Oleh trubusid
Senin, Desember 01, 2008 01:41:24
Gurami identik dengan daun sente. Di mana ada kolam gurami, di situ pasti ada tanaman sente. Peternak yakin Alokasia macrorrhizos itu pakan wajib gurami yang harus ada. Bisakah fungsinya diganti tanaman lain seperti caisin dan kangkung darat?
Jamak bagi peternak gurami untuk menanam sente 2-3 bulan sebelum menebar bibit gurami. Daun kerabat keladi itu sebagai pakan utama gurami. 'Sente wajib ada dalam pembesaran gurami,' ujar H Suryadi, peternak di Desa Pabuaran, Kabupaten Bogor. Menurut Suryadi, daun sente kaya serat yang dapat memperlancar pencernaan gurami.
Atau simaklah pengalaman Mohamad Sulhi Spi, peternak di Bogor. Pria yang juga periset di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, Bogor, itu membandingkan pertumbuhan gurami di dua kolam pembesaran yang letaknya bersebelahan. Ikan di kolam pertama diberi pakan pelet apung 100%. Sedangkan ikan di kolam kedua selain diberi pelet, juga daun sente sebanyak 5% dari bobot tubuh 2 hari sekali.
Pertumbuhan ikan dengan pakan pelet lebih cepat. Namun, setelah 4 bulan diamati, 5-10% populasi di kolam itu mengalami bisul dan mata belo. Sementara gurami yang diberi pakan tambahan daun sente pertumbuhannya normal dan sehat. Kandungan senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol yang terdapat pada tangkai dan daun sente diduga mampu meningkatkan daya tahan ikan terhadap serangan penyakit.
Adaptasi fisiologis
Pengalaman Sulhi sejalan dengan penelitian yang dilakukan Susilo dan Hariyadi dari Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Mereka membagi 4 kelompok gurami yang masing-masing diberi pakan 75% daun sente, 25% pelet-50% daun sente, 50% pelet-25% daun sente, dan 75% pelet. Hasilnya, gurami yang diberi pakan 75% pelet menunjukkan efisiensi pakan tertinggi, tetapi angka kematian ikan sangat tinggi.
Susilo dan Hariyadi menyarankan kombinasi pakan 50 % pelet 25% daun sente untuk efisiensi pakan terbaik. Itu didasarkan gurami memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Maksudnya, Osphronemus gouramy itu dapat mengalokasikan sumber pakan yang ada untuk diubah menjadi energi. Sejalan dengan riset yang dilakukan oleh Ir Petrus Hary Tjahja Soedibya, dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Dalam tesisnya, Hary membandingkan pencernaan gurami yang diberi pakan cacing beku tubifex dan tepung daun sente. Gurami yang diberi pakan tubifex mengalokasikan 64,69% energi yang terserap dari pakan untuk proses metabolisme, 20,46% untuk pertumbuhan. Sisanya 14,72% dan 0,13% dikeluarkan melalui feses dan urin. Gurami yang mengkonsumsi sumber pakan tepung daun sente malah hanya mengalokasikan 58,44% energi yang terserap untuk metabolisme, 7,52% untuk pertumbuhan, dan 33,93% energi terekskresi melalui feses serta 0,11% lewat urin.
Menurut Hary fenomena itu membuktikan gurami mengalokasikan energi untuk beradaptasi secara fisiologis terhadap ketersediaan sumber pakan. Pengeluaran energi melalui feses dan urin pada gurami yang diberi pakan tepung sente lebih tinggi dibandingkan yang diberi pakan tubifex. Tingginya tingkat pengeluaran energi secara langsung akan mengurangi alokasi energi yang dibutuhkan untuk proses metabolisme dan pertumbuhan.
Laju pertumbuhan gurami yang diberi tubifex terlihat lebih baik, sebesar 0,84% per hari; tepung daun sente 0,43% per hari. Rendahnya laju pertumbuhan gurami yang mengkonsumsi tepung daun sente karena pakan sulit dicerna sehingga butuh energi lebih banyak untuk metabolisme. Itu tercermin pada pengukuran konsumsi oksigen yang tinggi yaitu sebesar 0,76 mg/g/j.
Alternatif sente
Oleh karena itu peternak tidak perlu menganggap sente sebagai menu utama bagi gurami. Sente yang diberikan sebanyak-banyaknya tidak akan memacu produktivitas. Makanya salah besar beberapa peternak tradisional di Jawa Barat tabu memberi pakan selain sente pada masa pemijahan induk gurami. Saat memijah induk gurami butuh asupan nutrisi dan protein tinggi. 'Itu tak akan tercukupi oleh pemberian pakan berupa daun sente saja,' ujar Sulhi.
Penelitian Sulhi bersama Hidayat Djajasewaka, rekan sejawatnya, pada 2002 menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Saat itu Sulhi menambahkan pakan daun sente bervariasi antara 2-5% dan pelet berprotein 35% sebesar 1% dari bobot tubuh per hari pada induk gurami yang tengah memijah. Ternyata induk gurami yang diberi tambahan pakan daun sente terendah, 2% per hari, memperlihatkan kecepatan tumbuh, produksi telur, dan sarang isi tertinggi. 'Artinya pemberian terlalu banyak sente tidak akan berdampak positif,' kata Sulhi.
Sente sah-sah saja diberikan sebagai pakan tambahan untuk menyiasati harga pakan buatan yang semakin mahal, tapi bukan yang utama. Apalagi kini sente semakin sulit didapat. Suryadi mengaku harus membeli daun sente dengan harga Rp250/lembar. Padahal, 'Seribu ekor gurami setiap harinya dapat menghabiskan 10 lembar daun,' kata Suryadi. Menurut Sulhi selain sente masih banyak tanaman lain yang bisa dijadikan pakan tambahan untuk gurami. Contohnya caisin. 'Kesehatan dan pertumbuhan gurami yang diberi caisin tak kalah dengan yang diberi sente,' ujar Sulhi.
Jika caisin tak ada, Sulhi menyarankan kangkung darat juga bisa diberikan sebagai alternatif. 'Kangkung lebih cepat tumbuh ketimbang sente,' ujar Sulhi. Jika sente butuh tempat sedikit terlindung dan kelembapan tinggi untuk dapat tumbuh, kangkung darat adaptif di lingkungan tanpa naungan.
Kimpul atau talas, Xanthosoma violaceum, juga baik bagi gurami. Namun, lantaran bergetah peternak sebaiknya melayukan daun kimpul sebelum memberikannya pada gurami. Daun pepaya tak disarankan lantaran kandungan getah papain tinggi akan merusak kualitas air. 'Gurami malah stres,' tambahnya. Menurut Sulhi apa pun jenis dedaunan yang diberikan sebaiknya masih muda dan mudah dicerna. Pun, pemberian dedaunan itu tak lebih dari 2% dari bobot tubuh per hari. (Andretha Helmina)
Senin, 15 September 2008
Lokasi liburan alternatif
Gunung Bunder
Gunung bunder merupakan salah satu kawasan dikabupaten
Pemandangan tidak kalah indahnya dengan pemandangan diwilayah puncak.dan bahkan lebih nyaman menikmati keindahan dibandingkan puncak cipanas yang harus selalu menempuh kemacetan. Dengan hanya membayar retribusi Rp 3000.-/orang kita dapat menyaksikan keindahan seperti gambar ini,dan banyak lagi tempat wisata lainnya dari Kawah ratu yang saat saya datang sedang tertutup untuk wisatan karena saat itu sedang mengadung gas beracun, hutan lindung yang menjadi satu dengan pungungan Gunung Salak, dan berbagi Air Terjun yang banyak dijumpai menjadikan daya tarik tersendiri bagi lokasi Gunung Bunder ini.
Wilayah ini
Wilayah ini masih sering menjumpai rumah-rumah diatas bukit,yang menurut warga sekitar kadang digunakan untuk mengisi badan, entah apa maksudnya dari mengisi badan tersebut tetapi yang dapat saya tangkap rumah-rumah tersebut sering digunakan untuk mencari ilmu kebatinan. Sehingga pernah timbul adanya seorang yang mengaku sebagai rasul baru, yang mungkin terjadi karena memang adanya tempat seperti ini.
Dibawah ini berbagai Air terjun yang dapat ditampilkan. Dan sebenarnya masih banyak lagi Air Terjun yang ada disini, bahkan penduduk setempat pernah mengatakan ada air terjun yang belum tereksplorasi dikarenakan
Untuk penginapan kita bisa menggunakan fasilitas warung-warung yang berada disekitar yang memang sengaja digunakan bagi para pendatang yang hanya sekedar menghabiskan malam, atau dapat menggunakan fasilitas penginapan yang tersedia mulai dari Rp 100.000.-/malam hingga Rp 1.000.0000.-/malam untuk kelas wisma. Untuk harga makan disanapun cukup terjangkau. Dan lokasi disini sering digunakan para pecinta alam untuk digunakan sebagi tempat diklat, dikarenakan kontur serta lokasinya yang masih memungkinkan untuk melaksanakan diklat.
Ini merupakan pemandangan yang dapat dijumpai jika kita memasuki areal pemandian air panas yang ada. Dengan nama Pemandian Air Panas SGA dan dengan membayar biaya masuk sebesar Rp 2.500.-/orang. Berdasarkan penduduk setempat air ini berasal dari puncak gunung bunder, yang terdapat air terjun bernama Curug Seribu. Air ini masih terdapat unsur belerang dapat dilihat warna coklat ke kuningan yang berasal dari endapan dian air panas yang ada disana, dengan membayar Rp 1.000.-/orang untuk kolam redam umum, dan Rp 10.000.-/kamar untuk kolam dengan privasi dengan maksimal 2 orang tiap kamarnya. Bahkan ada yang tidak perlu membayar alias gratis yang hanya sekedar untuk membasuh dan merasakan kehangatan air tersebut. Menurut bapak Haris sebagai penjaga kolam air panas ini sumber air ini berasal dari bukit yang ada disampingnya.
Menurut cerita pak Haris, kolam tersebut dapat menyembuhkan berbagi penyakit, baik itu penyakit kulit hingga stroke. Penah seorang yang mengalami stroke yang cukup parah datang kesana, dengan ajuran terapi beliau selama 6 hari penyakit tersebut dapat sembuh. Dan seorang warga negara Jepang pun pernah merasakan khasiat dari air panas tersebut. Beliau dapat membantu jika memang ada yang membutuhkan jasanya.
“Ini mungkin bisa menjadikan alternatif untuk menghabiskan libur pembaca sekalian”
Penulis mohon maaf jika ada berita yang salah.
Mohon untuk tidak mengkomersilkan artikel ini,tanpa ijin penulis.Poetstory
Post by: poets01
Kamis, 11 September 2008
sepenggal kisah wonogiri
Gunung ini yang disebut dengan Gunung Gajah Mungkur,dibalik
Satu hal lagi, jika pada musim kering banyak sekali warga desa yang kesulitan akan air baik itu untuk konsumsi maupun untuk keperluannya lainnya. Disebabkan semakin berkurangnya sumber-sumber air ataupun mata air yang menjadi penopang hidup mereka. Penah saya membaca artikel sebuah
Rumah Generasi ke 3
Ini merupakan rumah terakhir digenerasi ketiga.yang mana saat ini sudah tidak dihuni lagi,dikarenakan menghilangnya generasi selanjutnya. Mereka mencari kehidupan yang lebih baik lagi. Dan mungkin masih banyak rumah-rumah tidak berpenghuni disana.
Apakah tidak dapat memberikan kehidupan yang menjanjikan disana..??
Banyak dari masyarakat disana meratau entah keibukota
Apabila sanak saudara dan famili mereka pergi juga untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi, seperti apakah kondisi Wonogiri selanjutnya..??
